Apa yang dimaksud dengan logika informal?
Johnson dan Blair, dalam “Informal Logic: An Overview”, menjelaskan bahwa, logika informal menunjuk pada cabang logika yang bertugas mengembangkan kriteria dan prosedur non-formal untuk analisis, interpretasi, evaluasi, kritik, dan konstruksi argumen dan argumentasi dalam bahasa alami.
Istilah “in atau non-formal” bukan berarti serampangan atau penyangkalan terhadap keberadaan kriteria atau prosedur, melainkan sebagai penegasan bahwa logika informal tidak bergantung pada perangkat utama logika deduktif formal, yaitu analisis berdasarkan bentuk logis simbolik dan pengujian argumen melalui validitas deduktif.Non-formal juga berarti menilai argumen bukan dengan menanyakan apakah strukturnya sesuai dengan pola formal tertentu (apakah ini modus Ponens, Tollens, dan sebagainya?), melainkan dengan mempertimbangkan apakah alasan yang diajukan dapat memenuhi unsur keberterimaan, relevan, dan ketercukupan dalam konteks penggunaan bahasa alami. Karena itu, sekalipun disebut “non-formal”, logika informal tetap normatif dan sistematis, karena tetap menggunakan kriteria atau prosedur (non-formal) tuntuk menganalisis, mengevaluasi, dan mengkritik argumen yang muncul dalam praktik komunikasi nyata (bahasa alami).
Sedangkan maksud “argumen dalam bahasa alami” (natural-language argument) adalah bahasa yang digunakan manusia secara sehari-hari untuk berkomunikasi, baik lisan maupun tulisan, bukan bahasa buatan (artifisial) atau bahasa formal yang dirancang khusus untuk tujuan teknis atau simbolik. Argumen dalam bahasa alami ini bisa dalam bentuk wacana sehari-hari (everyday discourse) (misalnya pembahasan urusan publik seperti editorial surat kabar), dan “wacana tersistilisasi (stylized discourse)”, yakni gaya argumen, pola inferensi, dan epistemologi yang khas bagi disiplin-disiplin khusus, seperti berbagai cabang ilmu pengetahuan. Sedangkan bahasa artifisial (misalnya Python, C++, atau Java) atau bahasa simbol (misal: P→Q, P, maka Q) tidak menjadi pembahasan dalam logika informal.
Baca Juga: "Menuju Logika Informal"
Penjelasan Afthonul Afif juga penting untuk dikemukan. Menurut Afif,
Logika informal adalah cabang dari logika yang berfokus pada analisis dan evaluasi argumen dalam konteks percakapan sehari-hari, di luar struktur formal yang kaku. Tujuan utama logika informal adalah untuk memahami, mengevaluasi, dan membangun argumen yang muncul dalam interaksi manusia sehari-hari, seperti diskusi, debat, dan komunikasi persuasif. Berbeda dengan logika formal yang menggunakan simbol dan aturan ketat, logika informal lebih fleksibel dan relevan dengan kehidupan sehari-hari.
Meskipun definisi Johnson dan Blair serta Afthonul Afif memberikan jawaban awal yang cukup jelas, namun logika informal hingga kini belum sepenuhnya tampil sebagai disiplin yang terdefinisi secara ketat dan disepakati secara universal. Para pengkaji logika informal atau logikawan informal sendiri mengakui bahwa bidang ini berkembang melalui dan masih menjadi perdebatan internal mengenai ruang lingkup, metode, teori, dan relasinya dengan disiplin lain seperti logika formal, epistemologi, dan berpikir kritis. Karena itu, pencarian definisi logika informal tidak berhenti pada satu jawaban tunggal, melainkan sebagai bagian dari proses reflektif yang terus berlangsung.
Sebagaimana telah dikemukakan, salah satu sumber kebingungan terletak pada relasi antara logika informal dan logika formal. Logika informal sering dipahami secara keliru sebagai “logika formal yang disederhanakan” atau sebagai sebatas pelengkap pedagogis bagi logika deduktif. Padahal, telah ditegaskan oleh para perintisnya, logika informal lahir justru dari kritik terhadap keterbatasan logika formal dalam menganalisis dan mengevaluasi argumen yang muncul dalam praktik komunikasi nyata (bahasa alami). Fokus logika informal bukanlah penarikan kesimpulan yang bersifat niscaya, melainkan penilaian terhadap alasan-alasan yang diajukan dalam konteks tertentu.
Selain itu, penting pula untuk membedakan logika informal dari disiplin berpikir kritis (critical thinking), meskipun keduanya kerap dipertukarkan. Berpikir kritis mencakup berbagai keterampilan kognitif yang luas, seperti menafsirkan informasi, menilai klaim, dan mengambil keputusan rasional. Sedangkan logika informal memiliki fokus yang lebih sempit dan spesifik, yakni argumen dan argumentasi. Dalam pengertian ini, logika informal dapat dipandang sebagai salah satu fondasi teoritis penting bagi praktik berpikir kritis, tetapi tidak identik dengan-nya.
Untuk pegangan sementara, dapatlah dikatakan bahwa logika informal adalah cabang logika yang berfokus pada analisis, penafsiran, evaluasi, dan kritik argumen serta praktik argumentasi sebagaimana muncul dalam bahasa alami. Logika informal tidak menilai argumen dengan merujuk pada bentuk logis simbolik atau kriteria validitas deduktif, melainkan dengan menggunakan kriteria non-formal—seperti keberterimaan, relevansi, dan ketercukupan alasan—yang sensitif terhadap konteks penggunaan bahasa alami. Meskipun disebut “non-formal”, logika informal tetap bersifat normatif dan sistematis, karena bertujuan menetapkan cara-cara yang lebih praktis untuk menilai kualitas klaim dalam wacana argument-tatif sehari-hari.
Dengan demikian, aksentuasi logika informal terletak pada kajian tentang argumen sebagaimana digunakan dalam bahasa alami. Argumen tidak dipahami semata-mata sebagai rangkaian pernyataan yang tersusun secara deduktif, melainkan sebagai praktik yang berlangsung dalam konteks sosial, retoris, dan dialektis tertentu. Oleh karena itu, analisis logika informal tidak hanya memperhatikan hubungan antara premis dan kesimpulan, tetapi juga tujuan argumen, audiens yang dituju, serta asumsi-asumsi implisit yang menyertainya.
Inilah penjelasan awal mengapa logika informal mengembangkan perangkat analisis khas, seperti skema argumen dan pertanyaan kritis, yang memungkinkan penilaian argumen secara lebih aktual. Maka, logika informal senantiasa berupaya menuntun nalar secara praksis lewat argumentasi dalam kehidupan sehari-hari, dengan penggunaan bahasa alami.
Menjadi jelas bahwa kemunculan logika informal tidak dapat dilepaskan dari berbagai kritik terhadap logika formal. Sebagaimana telah disinggung secara sepintas, kritik-kritik tersebut bukan merupakan penolakan terhadap logika formal itu sendiri, melainkan keberatan atas keterbatasannya ketika digunakan untuk menganalisis dan mengevaluasi argumen yang muncul dalam percakapan sehari-hari. Karena itu, penting untuk mengemukakan secara lebih sistematis: kritik apa sebenarnya yang diajukan terhadap logika formal sehingga memunculkan kebutuhan akan suatu pendekatan logika yang berbeda, yang kini dikenal sebagai logika informal?
Editor: redaksi sehimpun.com
Sumber Bacaan:
- J. Anthony Blair dan Ralph H. Johnson, “Informal Logic: An Overview,” Informal Logic 20, no. 2 (2000)
- J. Anthony Blair, “What Is Informal Logic?,” dalam Reflections on Theoretical Issues in Argumentation Theory, ed. oleh Frans H. van Eemeren dan Bart Garssen (Cham: Springer International Publishing, 2015)
- Afthonul Afif, Logika Informal: Pedoman Berpikir Kritis dan Berargumen Efektif dalam Kehidupan Sehari-hari (Yogyakarta: IRCiSoD, 2025)
